Sabtu, 22 November 2014

(KAMU) Kenangan

Selamat ulang tahun. Itukah bisikmu dari sana?
Entah kau ingat atau tidak. tapi keyakinanku berkata kau sudah tak ingat lagi tentang hari ini. Hari yang pernah kau tunggu sepanjang malam hanya untuk sekedar mengucapkannya padaku pertama kali. Pada jam yang seharusnya kau beristirahat dari lelahnya hari kerjamu. Aku sangat tahu kamu selalu ingin jadi yang pertama dalam hal apapun dalam hidupku. Termasuk hal-hal sepele seperti mengucapkan “Selamat Pagi” tiap kali bangun dari tempat tidurku.
Perlakuanmu padaku sungguh istimewa dan berlebihan. Perlakuanmu itu bagai seorang hamba pada tuan putrinya. Tentu jika kau ingat hari ini. Pasti sekarang kau sudah di depanku dengan sejuta cinta dan pelukan hangat untuk menyambutku. Tak lupa pula kue ulang tahun berlapis coklat leleh yang lezat. Dan juga sekotak kecil kado yang sudah ku ketahui isinya. Hehehe.. “kenapa sekecil ini kadoku?” Itulah tanyaku saat aku tak tahu kadomu dulu. “karena hanya sebuah kunci. kunci kulkasku sendiri.” Hahaha.. begitulah jawabmu disertai dengan renyah tawamu. Dan setelah kulkas kubuka, isinya hanya coklat sejauh mata memandang. Alasanmu pun cukup sederhana, kau tidak mau melihatku menangis karena kehabisan coklat. Jadi coklat sekulkas besar ini jatah coklatmu untuk setahun sebelum ulang tahunku datang lagi.
Ya. Seperti itulah kamu. Tapi sebelum aku merayakan kedua ulang tahunku bersamamu. sekarang kau hanya bayangan yang tak ku ketahui ragamu dimana. Tahukah dirimu bahwa kau telah menghukumku seberat rasa diamku padamu. Tahukah kau bahwa diamku sebanyak rasa sayang dan cintaku padamu. Aku rasa kau tidak sepeka diriku dalam urusan ini.
Entah hari specialku yang ke berapa sejak kau hanya memberiku bayanganmu. Kau masih saja ada diingatanku. Dan dengan bebasnya kau menari-nari dengan senyum kembang  tawamu yang buatku merasa pilu. Karena kini kau telah menggenggam tangan yang lain. Dan bukan tanganku lagi.

Rabu, 12 November 2014

Malaikat Pelindung


Suatu ketika, ada seoarng bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka, ia bertanya kepada Tuhan. “Ya Tuhan, Engkau akan mengirimku ke bumi. Tapi, aku takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku disana?”

Tuhanpun menjawab, “Diantara semua malaikat-Ku, aku akan memilih seorang yang khusus untukmu. Dia akan merawatm dan mengasihimu.”

Si kecil bertanya lagi, “Tapi, disini, di surge ini, aku tak berbuat apa-apa, kecuali tersenyum dan bernyanyi. Semua itu cukup membuatku bahagia.”

Tuhan pun menjawab, “Tak apa, malaikatmu itu akan selalu menyenandundkan lagu untukmu dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih saying, dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia.”

Namun si kecil bertanya lagi. “Bagaimana aku bias mengerti ucapan mereka, jika aku tak tahu bahasa yang mereka gunakan?”

Tuhan pun kembali menjawab, “Malaikatmu itu akan membisikkanmu kata-kata yang paling indah, dia akan selalu sabar ada disampingmu. Dan dengan kasihnya, dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahawa manusia.”

Si kecil bertanya lagi, “Lalu bagaimana jika aku ingin berbicara padamu, Ya Tuhan?”
Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu itu akan membimbingmu. Dia akan menengadahkan tangannya bersamamu, dan mengajarkanmu untuk berdoa.”

Lagi-lagi si kesil menyelidik, “Namun aku mendengar, di sana ada banyak sekali orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungiku?”

Tuhan pun menjawab, “Jangan takut. Tananglah, malaikatmu akan terus melindungimu, walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering akan melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu.”

Namun si kecil kini malah sedih, “Ya Tuhan, tentu aku akan sedih jika tak bisa melihat-Mu lagi.”

Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu akan selalu mengajarkanmu keagungan-Ku dan dia akan mendidikmu, bagaimana agar selalu patuh dan taat kepada-Ku. Dia akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu, aku akan selalu ada disisimu.”

Hening. Kedamaianpun tetap menerpa surge. Namun, suara-suara penggilan dari bumi terdengar sayup-sayup. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong, sebutkan nama malaikat yang akan melindungiku….”


Tuhan pun kembali menjawab, “Nama malaikatmu tak begitu penting. Kamu akan memanggilnya dengan sebutan: Ibu…”

Senin, 20 Oktober 2014

Ya.. aku cemburu

Bukankah ini aneh?

Aku masih saja merasa heran kala menatap butiran bening menetes dari mataku. Seharusnya cuaca yang begitu cerah seperti ini tidak mampu memberi perintah untuk melakukan hal itu.

Bagaimana tidak?

Lihat saja ke atas. Matahari dengan gagahnya seakan mengajak tersenyum. Jejeran awan putih pun seraya memberikan keteduhan untuk bersuka ria. Bahkan burung-burung bersenandung kegembiraan.

Andai aku bisa ikut bersenandung bersama meraka. tapi hatiku tidak mengijinkanku melakukannya. Benar. Rasa itu masih ada. Tiap kali dia bersama teman wanitanya. Satu sisi hatiku belum bisa menerimanya.

Ya. Aku cemburu. tapi aku tak mampu mengatakannya. Aku tak punya nyali mengakuinya. Aku sudah kalah oleh ketakukanku sendiri.

Andai.. Kamu mampu membaca tatapan mataku. Sungguh aku tidak akan menyia-nyiakan butiran bening ini keluar saat ini.

Senin, 13 Oktober 2014

Harapan Si Sulung


Dengan penuh harapan aku masih di sini.

Sudah hampir enam puluh menit aku berdiri memandang gedung bercat putih kusam di depanku. Memperhatikannya dengan penuh semangat untuk memenuhi segala harapanku. Memandangnya hanya hari senin yang artinya satu kali dalam seminggu setelah aku pulang dari sekolah dasar.

Pandanganku takkan kualihkan sedetik pun dari sana. Seolah jika hal itu terjadi, gedung tersebut akan tenggelam bersamaan dengan harapan-harapan yang telah tersamai indah di hatiku. Namun tanda-tanda untuk memulai istirahat siang belum tergambar dari dalam sana. Tiga puluh menit lebih lambat dari biasanya.

Sungguh menyebalkan. Aku hampir kehilangan kesabaran dengan berdiri di sini. Membuang waktu tiga puluh menit tanpa mendapat pelanggan dari orang yang bekerja di gedung itu. Bayangkan, dengan waktu sebanyak itu, aku bisa berjalan di satu kampung untuk menjajakan jajanan gorengan Mang Udin dengan penghasilan hampir tujuh ribu rupiah. Membantu menyetrika beberapa potong baju majikan ibuku. Atau menyemir enam pasang sepatu pegawai hingga tampak mengkilat seperti pantulan cahaya dari cermin seperti biasanya.

Jumat, 26 September 2014

Pacar Seminggu Dua Hari

Hari memang masih pagi tapi kesejukannya sudah terganti dengan suasana panas  seperti  pertengahan siang jam 12 tepat dengan matahari lurus di atas kepala. Emosiku masih berada dipuncak dan belum mau padam, meskipun suasana kamarku lebih menyejukkan daripada ruang lain di rumahku.

Kamarku layaknya nuansa hutan  yang tersinari matahari pagi dengan atap langit biru cerah ini dominan warna hijau dan biru biasanya sudah bisa meredakan emosiku yang begitu membucah. Tapi entah berbeda dengan sekarang. Aku masih menangis menyalurkan emosiku yang sulit sekali aku lampiaskan. Semakin aku menahan marah dan kesedihanku semakin deras airmataku mengalir ke pipiku yang putih.

Selasa, 23 September 2014

Review Buku : The Supper Club


Pertama kali liat novel ini terpikir alur cerita dengan konsep makanan yang super yummy karena dari cover depannya saja sudah terpampang steak daging yang menggoda nafsu makan -- bikin laper. Hhmm... pasti enak banget kalo tiba-tiba steak daging yang persis itu dan masih fresh from the kitchen alias baru matang yang masih mengepulkan asap halus di depan meja sebagai makan siang hari ini.. hahaha *berkhayal tingkat dewa

Minggu, 21 September 2014

Cinta Manusia Biasa!!

Ini adalah sebuah percakapan kedua teman saya yang sudah menjadi suami istri. Si laki-laki namanya Andra (nama samaran) dan Si wanita namanya Mala (nama samaran juga). Saya berteman dengan mereka baru beberapa waktu yang lalu. Walaupun tidak bertatap muka, mereka mampu membuat saya mengoreksi diri saya sendiri dalam satu hal yakni Cinta. Ya, satu hal yang erat kaitannya dengan manusia. Tak perlu panjang lebar untuk mengerti, namun cukup dengan membaca dan memahami makna percakapan yang singkat berikut ini.