“Selamat ulang
tahun. Itukah bisikmu dari sana?
Entah kau ingat
atau tidak. tapi keyakinanku berkata kau sudah tak ingat lagi tentang hari ini.
Hari yang pernah kau tunggu sepanjang malam hanya untuk sekedar mengucapkannya
padaku pertama kali. Pada jam yang seharusnya kau beristirahat dari lelahnya
hari kerjamu. Aku sangat tahu kamu selalu ingin jadi yang pertama dalam hal
apapun dalam hidupku. Termasuk hal-hal sepele seperti mengucapkan “Selamat
Pagi” tiap kali bangun dari tempat tidurku.
Perlakuanmu
padaku sungguh istimewa dan berlebihan. Perlakuanmu itu bagai seorang hamba pada
tuan putrinya. Tentu jika kau ingat hari ini. Pasti sekarang kau sudah di
depanku dengan sejuta cinta dan pelukan hangat untuk menyambutku. Tak lupa pula
kue ulang tahun berlapis coklat leleh yang lezat. Dan juga sekotak kecil kado
yang sudah ku ketahui isinya. Hehehe.. “kenapa sekecil ini kadoku?” Itulah tanyaku
saat aku tak tahu kadomu dulu. “karena hanya sebuah kunci. kunci kulkasku
sendiri.” Hahaha.. begitulah jawabmu disertai dengan renyah tawamu. Dan setelah
kulkas kubuka, isinya hanya coklat sejauh mata memandang. Alasanmu pun cukup
sederhana, kau tidak mau melihatku menangis karena kehabisan coklat. Jadi
coklat sekulkas besar ini jatah coklatmu untuk setahun sebelum ulang tahunku
datang lagi.
Ya. Seperti
itulah kamu. Tapi sebelum aku merayakan kedua ulang tahunku bersamamu. sekarang
kau hanya bayangan yang tak ku ketahui ragamu dimana. Tahukah dirimu bahwa kau
telah menghukumku seberat rasa diamku padamu. Tahukah kau bahwa diamku sebanyak
rasa sayang dan cintaku padamu. Aku rasa kau tidak sepeka diriku dalam urusan
ini.
Entah hari
specialku yang ke berapa sejak kau hanya memberiku bayanganmu. Kau masih saja
ada diingatanku. Dan dengan bebasnya kau menari-nari dengan senyum kembang tawamu yang buatku merasa pilu. Karena kini
kau telah menggenggam tangan yang lain. Dan bukan tanganku lagi. ”




