Hari memang masih pagi tapi kesejukannya sudah terganti dengan suasana
panas seperti pertengahan siang jam 12 tepat dengan matahari
lurus di atas kepala. Emosiku masih berada dipuncak dan belum mau padam,
meskipun suasana kamarku lebih menyejukkan daripada ruang lain di rumahku.
Kamarku layaknya nuansa hutan yang tersinari matahari pagi dengan atap
langit biru cerah ini dominan warna hijau dan biru biasanya sudah bisa
meredakan emosiku yang begitu membucah. Tapi entah berbeda dengan sekarang. Aku
masih menangis menyalurkan emosiku yang sulit sekali aku lampiaskan. Semakin
aku menahan marah dan kesedihanku semakin deras airmataku mengalir ke pipiku
yang putih.

