Hari memang masih pagi tapi kesejukannya sudah terganti dengan suasana
panas seperti pertengahan siang jam 12 tepat dengan matahari
lurus di atas kepala. Emosiku masih berada dipuncak dan belum mau padam,
meskipun suasana kamarku lebih menyejukkan daripada ruang lain di rumahku.
Kamarku layaknya nuansa hutan yang tersinari matahari pagi dengan atap
langit biru cerah ini dominan warna hijau dan biru biasanya sudah bisa
meredakan emosiku yang begitu membucah. Tapi entah berbeda dengan sekarang. Aku
masih menangis menyalurkan emosiku yang sulit sekali aku lampiaskan. Semakin
aku menahan marah dan kesedihanku semakin deras airmataku mengalir ke pipiku
yang putih.
Kesalku pada Mama semakin bertambah saat aku teringat kejadian di ruang
tengah 2 hari yang lalu. Dan hari ini
aku sudah menjalankan apa yang Mama perintahkan padaku waktu itu.
“Mama maunya kamu putusin pacarmu
itu.” Ucapan mama itu masih terngiang jelas seperti beberapa detik lalu
diutarakan.
“Tapi Ma.. aku jatuh cinta sama
Adam. Adam juga cinta sama Naila. Kenapa harus aku putusin pacarku? Kami baru
berpacaran seminggu.” Protesku pada Mama.
Mama dengan nada halus menasehatiku menjawab “Karena belum saatnya kamu punya pacar. Mama tidak suka kamu punya
pacar. Entah dengan siapapun. Adi, Niko atau dengan yang lain, Mama tidak suka
dan tidak setuju…”
“Tapi kenapa Mama? Aku sudah SMP
kelas 2 dan aku sudah mengerti yang mana baik dan buruk bagiku. Lagian teman-temanku
sudah banyak yang punya pacar.” Tanyaku menyela ucapan mama yang belum
selesai
“Belum. Kamu belum mengerti mana
yang baik dan mana yang buruk buatmu sendiri. Coba kamu liat ini.” sambil
menyerahkan sebuah kertas yang terlipat kepadaku.
Aku sudah mengerti bagaimana Mama bisa mendapatkan kertas ini dan juga
sudah bisa menebak kertas apa itu. Setelah aku terima, ternyata dugaanku benar.
Mama memberiku kertas ulangan matematikaku 3 hari yang lalu.
Ulangan matematikaku 4 hari yang lalu memang tepat dengan kencan
pertamaku dengan adam sore harinya. Saat mendengar akan diajak Adam untuk
kencan pertama, pikiran dan hatiku sudah tidak bisa berjalan dengan normal. Semuanya
terpusat pada satu hal, yaitu apa yang akan kami lakukan di kencan pertama. Nonton
film, nonton konser band favorit, jalan-jalan di mall, atau sekedar ngobrol di
sebuah café yang romantis.
Dan malam hari sebelum ulangan matematika esok hari, belajarku menjadi
terganggu oleh imaginasi tentang kencan pertama yang romantis itu. Tapi entah
mengapa hari itu aku punya keyakinan besar akan berhasil dapat nilai yang baik
pada ulangan matematika.
Tapi saat ulangan matematikaku dibagikan kepada semua murid dikelas. Aku
sangat terkejut dengan hasil yang berbanding terbalik dengan keyakinan besarku saat
itu. Nilai tempat duduk atau 4 – Empat dengan E besar - itu membuatku tak bisa
menjawab pertanyaan guru matematiku kenapa aku mendapat nilai yang buruk itu. Jadi
aku harus mengerjakan tugas remidi untuk bisa memperbaiki nilai ulanganku
menjadi nilai Standar Kelulusan minimum (SKM) pada materi yang menjadi bahan
ulangan pada waktu itu.
“Ma.. aku sudah mengerjakan tugas
remidi yang diberikan guru agar nilai ulangan ini tidak 4 lagi melainkan 7
sesuai dengan nilai SKM.” Sanggahku sambil menatap Mama yang sudah duduk di
sampingku.
“Mama tidak mempersoalkan nilai
itu Sayang, tapi karena kamu punya pacar, belajar kamu jadi terganggu. Dan Mama
mau kamu putusin pacarmu itu.”
Mama tetap pada keputusannya bahwa aku harus memutuskan Adam secepatnya.
Dan saat itu Papa juga mendukung keputusan Mama. Aku ingin memprotes banyak hal
pada Mama. Tapi Papa mengingatkan untuk tidak memprotes lagi masalah ini,
karena belum waktunya membahas hal ini.
Pagi hari minggu ini yang cerah aku mengundang Adam untuk datang ke
rumahku. Mama tidak keberatan karena mungkin Aku akan memutuskan Adam dan hanya
akan berteman dengan aku. Tidak lebih dari teman. Kami berbicara di gasebo
kecil di taman depan rumahku. Aku dan Adam berbicara banyak hal dengan santai
dan senyum ceria seperti remaja pada umumnya sebelum aku menyampaikan alasanku
mengundang Adam kemari.
“Dam... Aku minta.. maaf.. tapi
aku ingin kita tidak pacaran.. kita jadi teman saja.” Kataku sedikit
terbata-bata saat dia mulai meminum minuman hidangan Mama.
“Kenapa Nai?” Tanya Adam
kepadaku sambil terbatuk-batuk sedikit tersedak minuman.
“Orang tuaku tidak setuju aku
punya pacar sekarang.”
“Kenapa orang tuamu tidak setuju
Nai.” Tanya Adam lagi.
“Karena kita masih harus
konsentrasi dengan belajar. Kita masih muda dan masih harus banyak belajar
tentang banyak pula untuk hidup di masa depan yang sulit.” Aku menjawab
dengan lancar pertanyaan Adam seperti Alasan yang disampaikan Mama padaku 2
hari yang lalu.
Aku dan adam tak bersuara beberapa menit. Kami sama-sama tertunduk dalam
hembusan angin pagi yang segar. Terbuai oleh pikiran masing-masing. Bahkan mendiamkan
hidangan salad buah yang dibuat mama di depan kami.
Tiba- tiba Adam berdehem dua kali. Saat aku menoleh ke arahnya, dia
sudah dengan senyum menawannya dan dia bilang, “Nai, aku setuju kita berteman
saja. Dan aku bisa mengerti bagaimana pemikiran orang tuamu tentang pacaran”
“Makasih ya Adam. Kamu baik sekali bisa mengerti keadaanku.”
“Tapi Nai aku ingin kamu tetap menjaga cintamu padaku. Karena Aku juga
akan menjaga cintaku padamu. Sama sepertimu, ini adalah cinta pertamaku.” Adam dengan
dewasa menyampaikan apa yang dia rasakan dan inginkan kepadaku. Sama seperti
saat rapat Osis sikapnya yang selalu tenang dan berpikiran luas.
Dengan terpesonanya aku pada sikap Adam aku menjawab “Iya. Aku juga
ingin seperti itu.” Sambil tersenyum paling manis di hadapan Adam.
“Aku balik dulu Nai, sudah di tunggu sama teman-teman mau futsal seperti
biasanya.”
“Oke, sampai bertemu besok di sekolah. Dan aku ingin memberimu ini.”
sebuah buku yang bungkus dengan rapi ku berikan padanya.
Setelah berpamitan pada Mama. Adam pergi meninggalkan rumahku.
Aku masuk kamar dan masih tidak mengerti pada kejadian tadi. Sewaktu ada
Adam aku tidak merasa sedih sama sekali. Saat sendiri seperti ini tiba-tiba
airmata kesedihanku tanpa permisi selalu mengalir deras.
Aku memberi Adam sebuah buku yang diberikan Mama padaku waktu itu. Mama
memberiku dua buku yang berjudul “Udah Putusin Aja” yang memang menjadi buku best seller saat ini. Aku mengerti
kenapa Mama memberi dua buku agar satu buku bisa aku berikan pada Adam.
Tujuan Mama memberiku buku ini juga sedikit demi sedikit bisa aku
pahami. Karena aku belum sepenuhnya membaca habis buku ini. hanya ada satu
kalimat yang membuatku berani memutuskan Adam, yaitu “Walaupun tidak selamanya orang tua
yang benar, tapi sering kali mereka benar.” Dan aku berharap sepenuhnya setelah selesai membaca
buku ini aku bisa mengerti dan paham alasan Mama yang sebenarnya. Sehingga aku
tidak marah lagi pada Mama, walaupun sebenarnya sayangku ke Mama sangat besar
dibanding apapun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar