Jumat, 26 September 2014

Pacar Seminggu Dua Hari

Hari memang masih pagi tapi kesejukannya sudah terganti dengan suasana panas  seperti  pertengahan siang jam 12 tepat dengan matahari lurus di atas kepala. Emosiku masih berada dipuncak dan belum mau padam, meskipun suasana kamarku lebih menyejukkan daripada ruang lain di rumahku.

Kamarku layaknya nuansa hutan  yang tersinari matahari pagi dengan atap langit biru cerah ini dominan warna hijau dan biru biasanya sudah bisa meredakan emosiku yang begitu membucah. Tapi entah berbeda dengan sekarang. Aku masih menangis menyalurkan emosiku yang sulit sekali aku lampiaskan. Semakin aku menahan marah dan kesedihanku semakin deras airmataku mengalir ke pipiku yang putih.


Kesalku pada Mama semakin bertambah saat aku teringat kejadian di ruang tengah  2 hari yang lalu. Dan hari ini aku sudah menjalankan apa yang Mama perintahkan padaku waktu itu.
Mama maunya kamu putusin pacarmu itu.” Ucapan mama itu masih terngiang jelas seperti beberapa detik lalu diutarakan.
Tapi Ma.. aku jatuh cinta sama Adam. Adam juga cinta sama Naila. Kenapa harus aku putusin pacarku? Kami baru berpacaran seminggu.” Protesku pada Mama.
Mama dengan nada halus menasehatiku menjawab “Karena belum saatnya kamu punya pacar. Mama tidak suka kamu punya pacar. Entah dengan siapapun. Adi, Niko atau dengan yang lain, Mama tidak suka dan tidak setuju…
Tapi kenapa Mama? Aku sudah SMP kelas 2 dan aku sudah mengerti yang mana baik dan buruk bagiku. Lagian teman-temanku sudah banyak yang punya pacar.” Tanyaku menyela ucapan mama yang belum selesai
Belum. Kamu belum mengerti mana yang baik dan mana yang buruk buatmu sendiri. Coba kamu liat ini.” sambil menyerahkan sebuah kertas yang terlipat kepadaku.

Aku sudah mengerti bagaimana Mama bisa mendapatkan kertas ini dan juga sudah bisa menebak kertas apa itu. Setelah aku terima, ternyata dugaanku benar. Mama memberiku kertas ulangan matematikaku 3 hari yang lalu.

Ulangan matematikaku 4 hari yang lalu memang tepat dengan kencan pertamaku dengan adam sore harinya. Saat mendengar akan diajak Adam untuk kencan pertama, pikiran dan hatiku sudah tidak bisa berjalan dengan normal. Semuanya terpusat pada satu hal, yaitu apa yang akan kami lakukan di kencan pertama. Nonton film, nonton konser band favorit, jalan-jalan di mall, atau sekedar ngobrol di sebuah café yang romantis.

Dan malam hari sebelum ulangan matematika esok hari, belajarku menjadi terganggu oleh imaginasi tentang kencan pertama yang romantis itu. Tapi entah mengapa hari itu aku punya keyakinan besar akan berhasil dapat nilai yang baik pada ulangan matematika.

Tapi saat ulangan matematikaku dibagikan kepada semua murid dikelas. Aku sangat terkejut dengan hasil yang berbanding terbalik dengan keyakinan besarku saat itu. Nilai tempat duduk atau 4 – Empat dengan E besar - itu membuatku tak bisa menjawab pertanyaan guru matematiku kenapa aku mendapat nilai yang buruk itu. Jadi aku harus mengerjakan tugas remidi untuk bisa memperbaiki nilai ulanganku menjadi nilai Standar Kelulusan minimum (SKM) pada materi yang menjadi bahan ulangan pada waktu itu.

Ma.. aku sudah mengerjakan tugas remidi yang diberikan guru agar nilai ulangan ini tidak 4 lagi melainkan 7 sesuai dengan nilai SKM.” Sanggahku sambil menatap Mama yang sudah duduk di sampingku.
Mama tidak mempersoalkan nilai itu Sayang, tapi karena kamu punya pacar, belajar kamu jadi terganggu. Dan Mama mau kamu putusin pacarmu itu.
Mama tetap pada keputusannya bahwa aku harus memutuskan Adam secepatnya. Dan saat itu Papa juga mendukung keputusan Mama. Aku ingin memprotes banyak hal pada Mama. Tapi Papa mengingatkan untuk tidak memprotes lagi masalah ini, karena belum waktunya membahas hal ini.

Pagi hari minggu ini yang cerah aku mengundang Adam untuk datang ke rumahku. Mama tidak keberatan karena mungkin Aku akan memutuskan Adam dan hanya akan berteman dengan aku. Tidak lebih dari teman. Kami berbicara di gasebo kecil di taman depan rumahku. Aku dan Adam berbicara banyak hal dengan santai dan senyum ceria seperti remaja pada umumnya sebelum aku menyampaikan alasanku mengundang Adam kemari.
Dam... Aku minta.. maaf.. tapi aku ingin kita tidak pacaran.. kita jadi teman saja.” Kataku sedikit terbata-bata saat dia mulai meminum minuman hidangan Mama.
Kenapa Nai?” Tanya Adam kepadaku sambil terbatuk-batuk sedikit tersedak minuman.
Orang tuaku tidak setuju aku punya pacar sekarang.
Kenapa orang tuamu tidak setuju Nai.” Tanya Adam lagi.
Karena kita masih harus konsentrasi dengan belajar. Kita masih muda dan masih harus banyak belajar tentang banyak pula untuk hidup di masa depan yang sulit.” Aku menjawab dengan lancar pertanyaan Adam seperti Alasan yang disampaikan Mama padaku 2 hari yang lalu.
Aku dan adam tak bersuara beberapa menit. Kami sama-sama tertunduk dalam hembusan angin pagi yang segar. Terbuai oleh pikiran masing-masing. Bahkan mendiamkan hidangan salad buah yang dibuat mama di depan kami.
Tiba- tiba Adam berdehem dua kali. Saat aku menoleh ke arahnya, dia sudah dengan senyum menawannya dan dia bilang, “Nai, aku setuju kita berteman saja. Dan aku bisa mengerti bagaimana pemikiran orang tuamu tentang pacaran
Makasih ya Adam. Kamu baik sekali bisa mengerti keadaanku.
Tapi Nai aku ingin kamu tetap menjaga cintamu padaku. Karena Aku juga akan menjaga cintaku padamu. Sama sepertimu, ini adalah cinta pertamaku.” Adam dengan dewasa menyampaikan apa yang dia rasakan dan inginkan kepadaku. Sama seperti saat rapat Osis sikapnya yang selalu tenang dan berpikiran luas.
Dengan terpesonanya aku pada sikap Adam aku menjawab “Iya. Aku juga ingin seperti itu.” Sambil tersenyum paling manis di hadapan Adam.
Aku balik dulu Nai, sudah di tunggu sama teman-teman mau futsal seperti biasanya.
Oke, sampai bertemu besok di sekolah. Dan aku ingin memberimu ini.” sebuah buku yang bungkus dengan rapi ku berikan padanya.

Setelah berpamitan pada Mama. Adam pergi meninggalkan rumahku.

Aku masuk kamar dan masih tidak mengerti pada kejadian tadi. Sewaktu ada Adam aku tidak merasa sedih sama sekali. Saat sendiri seperti ini tiba-tiba airmata kesedihanku tanpa permisi selalu mengalir deras.

Aku memberi Adam sebuah buku yang diberikan Mama padaku waktu itu. Mama memberiku dua buku yang berjudul “Udah Putusin Aja” yang memang menjadi buku best seller saat ini. Aku mengerti kenapa Mama memberi dua buku agar satu buku bisa aku berikan pada Adam.


Tujuan Mama memberiku buku ini juga sedikit demi sedikit bisa aku pahami. Karena aku belum sepenuhnya membaca habis buku ini. hanya ada satu kalimat yang membuatku berani memutuskan Adam, yaitu “Walaupun tidak selamanya orang tua yang benar, tapi sering kali mereka benar.” Dan aku berharap sepenuhnya setelah selesai membaca buku ini aku bisa mengerti dan paham alasan Mama yang sebenarnya. Sehingga aku tidak marah lagi pada Mama, walaupun sebenarnya sayangku ke Mama sangat besar dibanding apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar