Senin, 13 Oktober 2014

Harapan Si Sulung


Dengan penuh harapan aku masih di sini.

Sudah hampir enam puluh menit aku berdiri memandang gedung bercat putih kusam di depanku. Memperhatikannya dengan penuh semangat untuk memenuhi segala harapanku. Memandangnya hanya hari senin yang artinya satu kali dalam seminggu setelah aku pulang dari sekolah dasar.

Pandanganku takkan kualihkan sedetik pun dari sana. Seolah jika hal itu terjadi, gedung tersebut akan tenggelam bersamaan dengan harapan-harapan yang telah tersamai indah di hatiku. Namun tanda-tanda untuk memulai istirahat siang belum tergambar dari dalam sana. Tiga puluh menit lebih lambat dari biasanya.

Sungguh menyebalkan. Aku hampir kehilangan kesabaran dengan berdiri di sini. Membuang waktu tiga puluh menit tanpa mendapat pelanggan dari orang yang bekerja di gedung itu. Bayangkan, dengan waktu sebanyak itu, aku bisa berjalan di satu kampung untuk menjajakan jajanan gorengan Mang Udin dengan penghasilan hampir tujuh ribu rupiah. Membantu menyetrika beberapa potong baju majikan ibuku. Atau menyemir enam pasang sepatu pegawai hingga tampak mengkilat seperti pantulan cahaya dari cermin seperti biasanya.



Dengan penuh harapan aku melangkah.

Tepat pada detik pertama menuju ke tiga puluh satu menit, dengan segenap semangat yang sudah terkumpul, kulangkahkan kaki menuju pos satpam di ujung pojok gerbang gedung bercat putih itu. Dengan setiap langkah ku masih merasakan harapan itu akan segera terwujud.

Samar-samar dari kejauhan, ku melihat ada dua pria dan satu wanita bersegaram satpam di sana. Satu pria muda berbadan tegap, gagah dan besar dan satu pria yang sudah agak tua dengan badan yang besar namun sudah tidak gagah lagi karena faktor usia. Sedangkan satu perempuan tampak seperti model dengan wajah putih dan badan yang tinggi namun sedikit berlebihan berat badan. Jika dia memilih untuk berprofesi sebagai model dan bukan sebagai satpam.

Dengan penuh harapan aku bertanya

Pak, apakah waktu istirahat siang telah usai?” tanyaku pada satpam muda.

Saat ini masih berjalan istirahat siang dek. Kurang lebih dua puluh lima menit akan usai.” Jawabnya tegas sambil menatap heran padaku. Pikirku, mungkin karena aku yang masih menggunakan celana sekolah dasar bertanya tentang waktu istirahat siang di kantor mereka.

Ada urusan apa Dek? Apa ada yang bisa kami bantu?” Tambah satpam cantik dengan suara tegasnya namun lembut yang bisa membuat aku melamun sejenak. Mungkin lebih baik profesinya sebagai polwan.

Dengan saling memandang heran ketiga satpam tersebut kepadaku. Segera aku menjawab pertanyaan meraka dan sekaligus bertanya yang sudah memenuhi ruang berfikirku, “Sebenarnya ada Bu. Tapi mengapa para pegawai belum keluar gedung untuk istirahat siang?

Oh itu karena ada satu direktur baru yang mulai bekerja hari ini. Beliau mengadakan acara makan bersama dengan para pegawai sekaligus sebagai istirahat siang. Kalau ada, sebutkan apa yang bisa kami bantu Dek?” Pejelasan ramah satpam tua sekaligus secara perlahan hampir meruntuhkan satu harapanku hari ini. Dan mungkin tidak terwujud. Membuatku melamun lagi.

Masih dengan penuh harapan aku menjelaskan.

Sejenak tenggelam dalam lamunanku. Dengan kesadaran yang masih berharap mungkin dari ketiga satpam tersebut akan menjadi pelangganku, kemudian aku menjelaskan apa yang aku lakukan pada waktu istirahat siang dari kantor ketiga satpam tersebut.

Sebuah pertanyaan untuk ketiga satpam yang aku lontarkan sebelum pergi ke tempat jajan gorengan Mang Udin adalah apakah mereka mau menyemirkan sepatunya padaku. Entah kenapa jawaban mereka kompak dan bersamaan. Semua hanya satu kata yang berarti tidak menyemirkan sepatunya padaku.

Namun dengan penuh harapan itu aku bisa memenuhinya.

Dengan wajah yang tertunduk penuh kecewa dan hati yang mulai menitikkan tangisannya, aku melangkahkan kaki menjauhi pos satpam. Seakan-akan melangkahkan kaki untuk tidak memberikan seikat bunga mawar dengan harga lima belas ribu pada ulang tahun ibuku esok hari.

Tepat pada langkah ke limaku, satpam muda memanggilku.

Apakah kamu Arman?” tanyanya setengah berteriak kepadaku.

Iya. Saya Arman.” Jawabku sambil menoleh lagi pada pos satpam yang beberapa menit lalu telah meruntuhkan harapanku.

Namun itu tidak terjadi. Satpam muda tersebut baru saja teringat akan titipan Bu Sherly – salah satu pegawai di kantor mereka dan salah satu pelangganku - untuk menyemir tiga pasang sepatunya yang ada di bungkusan kresek hitam dihadapanku kini.

Kehandalan, kecepatan dan ketangkasan tanganku yang sudah terlatih sejak dua tahun belakangan ini, membuatku mahir menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya. Dengan kedua tanganku ini, aku tidak ingin ibu dimarahi lagi oleh majikannya karena aku terlalu lama dalam menyapu halaman ataupun mengepel seluruh lantai dua. Dan dengan itu pula, aku tidak ingin mengecewakan Bu Sherly atas hasil kerjaku yang tidak langsung dilihat oleh beliau seperti biasanya.

Dengan sisa waktu sebanyak dua puluh menit, sebelum pergi ke tempat jajan gorengan Mang Udin. Aku menyemir dengan penuh senyum mengembang di wajah. Dan hati yang bahagia untuk bisa memenuhi harapan esok hari.

Usaha menungguku tidak sia-sia, dengan penuh bersyukur atas pemenuhan harapanku hari ini. Semoga harapan-harapan lain juga akan terwujud agar ibu bangga memilikiku sebagai sulungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar